TUGAS FINAL
GEOGRAFI EKONOMI DAN INDUSTRI (ABKA552)
“PERANAN GEOGRAFI UNTUK PEMBANGUNAN EKONOMI
NASIONAL DI ERA GLOBAL”

Dosen Pembimbing:
Dr. ELLYN NORMELANI, M.Pd.
SELAMAT RIADI, M.Pd.
Disusun Oleh :
RARA ANGGRAENI (A1A514049)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG
MANGKURAT
BANJARMASIN
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis
panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan tugas ini. Penulis juga berterima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu pembuatan tugas ini terutama kepada Dosen yang telah membimbing
kami sehingga penulis bisa menyelesaikan “Makalah Peranan Geografi untuk Pembangunan Ekonomi Nasional
di Era Global”.
Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini masih banyak kekurangan, baik
dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh karena itu penulis
sangat mengharapkan saran serta kritik yang membangun dari berbagai pihak.
Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan tugas ini.
Banjarmasin, 11 Januari 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar ……………………………………………………………………. 2
Daftar
Isi …………………………………………………………………………... 3
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………… 4
A. Latar
Belakang ……………………………………………………………... 4
B. Rumusan Masalah
………………………………………………………….. 5
C. Tujuan
………………………………………………………………………. 5
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………………. 6
1.1
Geografi Ekonomi ……………………..…………………………….......... 6
1.2
Penerapan Ilmu
Geografi dalam Aspek Ekonomi
....................................................................................................................................................................................................................... 6
1.3
Pembangunan Global
Berkelanjutan ............................................................. 7
1.4
Peranan Geografi dalam
Pembangunan Ekonomi di Era Globalisasi ................................. 10
BAB III PENUTUP ……………………………………………………………… 12
A. Kesimpulan.................................................................................................... 12
B. Saran.............................................................................................................. 12
DAFTAR
PUSTAKA ……………………………………………………………. 13
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Era global dicirikan dengan kemajuan teknologi
bidang informasi dan komunikasi yang mewarnai segala segi kehidupan dan
peradapan manusia. Kemajuan teknologi ICT telah menyebabkan negara tanpa batas,
karena informasi dengan cepat dan mudah diakses, sehingga kepiawaian mengelola
informasi akan menjadikan suatu bangsa menjadi leading dalam berbagai segi
kehidupan. Dalam hal aplikasi ilmu geografi, ICT telah menjadikan terapan
konsep dalam geogafi menjadi nyata. Tampilan 2, 3 dan 4 dimensi obyek geografi
menjadikan ilmu ini semakin tampak manfaat pentingnya dalam berbagai program
pembangunan nasional, baik dalam pengembangan wilayah maupun dalam pengelolaan
wilayah akibat bencana.
Disiplin ilmu Geografi berkembang akibat tuntutan
kebutuhan manusia. Setiap generasi
cenderung memiliki perbedaan kebutuhan sesuai perkembangan masyarakat saat itu
(Holt-Jensen, 1980 p. 9). Dalam
kehidupannya, setiap individu pada umumnya memiliki kemampuan untuk menjelaskan
tentang situasi dan kondisi tempat
tinggalnya serta memberikan penjelasan apa yang terjadi jika menetap di tempat
lain yang berbeda. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa setiap manusia
pada dasarnya sudah memiliki apa yang disebut “geographical thingking” (pola berpikir geografis).
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa
pengertian geografi ekonomi ?
2.
Bagaimana
penerapan ilmu geografi dalam aspek ekonomi ?
3.
Apa
yang dimaksud dengan pembangunan global yang berkelanjutan ?
4.
Bagaimana
peranan geografi dalam pembangunan ekonomi di era globalisasi ?
C. TUJUAN
1.
Untuk
mengetahui pengertian geografi ekonomi.
2.
Untuk
mengetahui penerapan ilmu geografi dalam aspek ekonomi.
3.
Untuk
mengetahui pembangunan global yang berkelanjutan.
4.
Untuk
mengetahui peranan geografi dalam pembangunan ekonomi di era globalisasi.
BAB
II
PEMBAHASAN
1.1.
Geografi Ekonomi
Nursid
(1988:54 ) mendefinisikan geografi ekonomi sebagai cabang geografi manusia yang
bidang studinya struktur aktivitas keruangan ekonomi sehingga titik berat
studinya adalah aspek keruangan struktur ekonomi manusia yang di dalamnya
bidang pertanian, industri, perdagangan, komunikasi, transportasi dan lain
sebagainya. Sedangkan H. Robinson (1979) mengartikan geografi ekonomi sebagai
ilmu yang membahas mengenai cara-cara manusia dalam kelangsungan hidupnya
berkaitan dengan aspek keruangan, dalam hal ini berhubungan dengan eksplorasi
sumber daya alam dari bumi oleh manusia, produksi dari komoditi (bahan mentah,
bahan pangan, barang pabrik) kemudian usaha transportasi, distribusi, konsumsi.
(Suharyono, 1994 : 34). Geografi ekonomi merupakan cabang dari geografi manusia
di mana bidang studinya adalah struktur keruangan aktivitas ekonomi (Miller,
Aleksander, 1984) . Geografi sebagai studi variasi keruangan di permukaan bumi
di mana manusia melakukan aktivitas yang berhubungan dengan produksi, pertukaran
dan pemakaian sumber daya demi kesejahteraannya, dapat diartikan bahwa geografi
ekonomi berarti mengenai ruang lingkup manusia dalam aktivitas ekonominya. Di
dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia. Setiap daerah
pasti berbeda aktivitas atau kegiatan ekonominya, karena setiap daerah atau
ruang itu berbeda. Jadi, geografi ekonomi adalah aktivitas ekonomi manusia
sebagai obyeknya di suatu ruang atau ruang tertentu.
1.2. Penerapan Ilmu Geografi dalam Aspek
Ekonomi
Industri-industri
dalam arti luas adalah seluruh kegiatan manusia yang produktif, jadi di sini
industri meliputi juga industri pertanian, industri peternakan, pertambangan, dan
sebagainya. Sedangkan dalam arti sempit industri dapat diartikan dengan bagian
dari proses produksi yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi. Dalam
suatu industri pasti bebeda-beda karena harus menyesuaikan daerah yang akan di
jadikan suatu industri. Faktor yang menunjang dalam perindustrian di Indonesia
yaitu:
a.
Jumlah penduduk Indonesia sangat
banyak (sebagai tenaga kerja dan pemasaran/konsumen).
b.
Suasana industri yang baik.
c.
Jaringan komunikasi dan transportasi
yang mantap.
d.
Terjaminnya persediaan bahan mentah
(hasil pertanian, hasil hutan, hasil laut, hasil tambang).
e.
Tersedianya tenaga energi.
f.
Pasar dan sarana pasar yang baik.
g.
Perangkat pengelola yang baik.
h.
Ketentraman politik dan sosial.
i.
Posisi silang Indonesia yang
strategis (memperlancar pemasaran ke negara tetangga).
Kontribusi
geografi dalam perekonomian berbasis pertanian sendiri bagi bangsa Indonesia
memiliki peranan yang sangat besar bagi kelangsungan hidup masyarakat pada
khususnya karena Indonesia merupakan negara agraris di mana sektor yang paling
mendukung untuk dikembangkan. Apalagi negara Indonesia masih masuk dalam
jajaran negara berkembang yang mana kebanyakan negara berkembang, sektor yang
paling diminati untuk dijadikan mata pencaharian adalah sektor pertanian.
Pertanian adalah salah satu sektor yang di dalamnya terdapat penggunaan sumber daya
hayati untuk memproduksi suatu bahan pangan,bahan baku industri dan sumber
energi. Bagian terbesar penduduk dunia adalah bermata pencaharian dalam bidang-bidang
pertanian dan pertanian juga mencakup berbagai bidang.
1.3. Pembangunan Global Berkelanjutan
Globalisasi
adalah sebuah fenomena atau proses yang menggejala hampir di seluruh pelosok
dunia, tak luput juga di Indonesia. Tidak mudah untuk mendapatkan definisi
globalisasi yang holistik, karena memang sebagian besar hanya definisi kerja,
sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Achmad Suparman
mendefinisikan globalisasi sebagai proses menjadikan sesuatu (benda atau
perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh
wilayah. Ada juga yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, proses sejarah,
atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin
terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan
ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya
masyarakat. Sehingga dapat kita ambil kesimpulan bahwa globalisasi dapat
meningkatkan tekanan kepada dunia untuk menjadi suatu aliran jaringan tunggal
dari uang, gagasan-gagasan dan hal-hal lainnya. Sebagai proses untuk membentuk
jaringan tunggal, globalisasi membutuhkan penyebaran informasi agar
masing-masing tempat di dunia ini mempunyai persepsi yang sama. Penyebaran
unsur-unsur baru dalam globalisasi, khususnya informasi secara mendunia terjadi
melalui media cetak dan elektronik. Sehingga bisa dikatakan globalisasi terbentuk
oleh adanya kemajuan di bidang komunikasi dunia. Sebelum era globalisasi, Indonesia
sebagai bagian dari negara berkembang bisa membatasi kebijakan pembangunan
hanya untuk konsumsi dalam negeri atau paling luas untuk lingkup ASEAN, tapi
memasuki era globalisasi pembangunan harus juga menyesuaikan dengan kepentingan
banyak negara. Dengan demikian perlu dipikirkan konsep yang jelas agar
keberadaan globalisasi bisa mendukung pembangunan di Indonesia.
Tujuan
pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Jika
menilik dari keyakinan Karl Marx bahwa seseorang adalah cerminan dari
masyarakatnya, maka pembangunan manusia Indonesia sangat tergantung dari pembangunan
masyarakatnya. Agar manusia Indonesia dikenal baik oleh dunia, maka pembangunan
masyarakat secara holistik adalah wajib hukumnya dalam setiap kebijakan
pembangunan. Paradigma pembangunan yang sekarang dipakai dan sedang diupayakan
pemerintah Indonesia keberlangsungannya adalah pembangunan berkelanjutan
(sustainable development). Pembangunan berkelanjutan (sustainable development)
didefinisikan sebagai proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dan
sebagainya) yang berprinsip “memenuhi
kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan”
(menurut Brundtland Report dari PBB, 1987). Dari penekanan “tanpa mengorbankan pemenuhan generasi masa depan”, salah satu
faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah
bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan
pembangunan ekonomi dan keadilan sosial masyarakat sehingga pembangunan
berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan, lebih luas
dari itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan yaitu, pembangunan
sosial budaya, pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Kebijakan
pembangunan sosial dan budaya lebih dominan memperhatikan masalah kemiskinan.
Konsep dasar pembangunan dalam aspek sosial dan budaya ini bertumpu pada dua
hal. Pertama konsep kebutuhan, khususnya kebutuhan kaum miskin sedunia terhadap
siapa prioritas utama perlu diberikan. Kedua, gagasan keterbatasan yang
bersumber pada keadaan teknologi dan organisasi sosial yang dihubungkan dengan
kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan masa mendatang. Dengan
demikian keprihatinan mengatasi kemiskinan dan ikhtiar menghadapi menanggapi
keterbatasan akibat keadaan teknologi dan organisasi sosial menjadi latar
belakang pembahasan masalah-masalah lingkungan dan pembangunan. Selain hal
diatas, dalam aspek sosial sebenarnya Indonesia mempunyai modal sosial yang
kuat. Hal ini akan menjadi pendukung pembangunan yang berkeadilan sosial. Kegotong-royongan,
teposliro, sikap saling percaya yang menjadi ciri khas negara ini diyakini akan
mereduksi kesenjangan sosial. Tapi tidak lantas berhenti sampai disini, diperlukan
kebijakan dari aspek lain yang bisa mendukung pembangunan berkelanjutan ini.
Kebijakan
selanjutnya adalah ekonomi. Masalah yang harus diperhatikan dalam bidang
ekonomi disini adalah kesejahteraan dan pemerataan sehingga konsepnya ketika
pembangunan berhasil meningkatkan kualitas ekonomi, hal itu bisa dinikmati oleh
semua masyarakat. Kalaupun belum merata secara total, setidaknya bisa mereduksi
kesenjangan antara si miskin dan si kaya, maupun antara negara maju dan yang
belum maju. Kebijakan yang terakhir terkait dengan aspek lingkungan. Aspek
lingkungan ini menitikberatkan konsep pembangunan yang bijaksana dengan tujuan
meningkatkan kualitas. Dengan istilah lain dibahasakan sebagai pembangunan
berwawasan lingkungan dengan selalu memperhatikan sumber daya alam dan daya dukung
lingkungan yang memadai. Sedangkan menurut Emil Salim, pembangunan berwawasan
lingkungan merupakan upaya sadar dan berencana dalam menggunakan dan mengelola
sumber daya alam secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinambungan untuk
meningkatkan kualitas hidup. Pembangunan berkelanjutan yang dikawal
keberadaannya oleh globalisasi, dipandang kaum globalis seharusnya bisa menjadi
bagian dari pembangunan dunia. Ini berarti setiap langkah kebijakan dan
implementasi pembangunan di Indonesia sejalan dengan pembangunan negara-negara lain.
1.4. Peranan
Geografi dalam Pembangunan Ekonomi di Era Globalisasi
Dalam era pembangunan dan globalisasi, diperlukan
data geospasial yang lengkap, baru, akurat, pengelolaan data dan informasi yang
mudah diakses. Dalam hal ini, teknik penginderaan jauh dan SIG dapat memberikan
solusi tentang data dan imformasi obyek geografi, baik lithosfer, hidrosfer,
atmosfer, biosfer, dan antroposfer. Teknologi penginderaan jauh, melalui produk
yang dihasilkan (citra foto, citra satelit) dapat dimanfaatkan sebagai sumber data
obyek geografi maupun informasi lingkungan, baik lingkungan abiotik (sumber daya
alam), lingkungan biotik (flora dan fauna), serta lingkungan budaya (bentuk
penggunaan lahan dan semua hasil budidaya manusia). Data dan informasi
geospasial dapat berupa peta dasar, peta tematik, citra foto udara, citra
satelit, chart, denah, maket, sistem informasi spasial, baik yang statik maupun
dinamik. Teknologi pengelolaan informasi geospasial memanfaatkan teknologi ICT
dengan intens, sehingga bidang kajian geografi tidak hanya meliputi geografi
fisik dan geografi manusia, tetapi juga didukung oleh teknologi informasi
geografi, yang menjadikan kajian geografi makin bermakna.
Data dan informasi geospasial dapat diperoleh secara
langsung melalui teknik pengukuran, sensus ataupun observasi, sesuai dengan
tujuan perolehannya. Pengolahan citra penginderaan jauh, dapat dimanfaatkan
untuk berbagai aplikasi, terutama dalam bidang SDA dan LH. Manfaat tersebut
antara lain perolehan data dan informasi tentang jenis, luas, distribusi, dan
kualitas SDA dan LH secara cepat dan perubahan-perubahannya. Teknik
penginderaan jauh memerlukan tenaga dan pelaksana yang mampu mengelola citra :
interpretasi citra hingga menyajikannya ke dalam bentuk peta sumber daya atau
produk digital lainnya. Produk tersebut kemudian dapat digunakan sebagai input
dalam penyusunan basis data wilayah, yang bermanfaat untuk berbagai keperluan
pengelolaan wilayah. Program pembangunan nasional tahun 2000, tercantum dalam UU No. 25 tahun 2000, bab X memuat
Program Pengembangan dan Peningkatan Akses Informasi sumber daya alam (SDA) dan
Lingkungan Hidup (LH). Butir-butir rincian dalam UU tersebut dapat digunakan
sebagai dasar untuk menunjukkan manfaat geografi dan informasi geospasial, turunan
dan obyek geografi. Program tersebut berisi perlunya:
1.
Inventarisasi
dan evaluasi potensi SDA dan lingkungan hidup (LH), yang meliputi darat, laut,
udara.
2.
Valuasi
potensi sumberdaya hutan, air, laut, udara dan mineral, yang memungkinkan semua
sumberdaya memiliki harkat, yang bermanfaat bagi pelaksanaan UU 4/1982, tentang
lingkungan hidup.
3.
Pengkajian
neraca sumber daya alam, baik spasial maupun numerik.
4.
Penyusunan
produk domestik bruto hijau secara bertahap.
5.
Pendataan
kawasan ekosistem yang rentan terhadap kerusakan, termasuk wilayah kepulauan.
6.
Pendataan
batas kawasan hutan, pengkajian IPTEK bidang sistem informasi sumber daya alam
dan lingkungan hidup.
7.
Peningkatan
akses informasi SDA dan LH kepada masyarakat, stake holders.
Butir-butir tersebut dengan jelas mewajibkan pada
semua spasial data provider untuk mengembangkan sistem informasi spasial
geografis, yang dapat memberikan layanan kepada masyarakat secara real time dan
menyeluruh. Agar supaya suatu lembaga dapat melaksanakan kegiatan pengelolaan
wilayah untuk pembangunan dan menanggulangi bencana, maka sebuah institusi
pengelolaan data amat diperlukan. Penyusunan institusi tersebut memerlukan
tersedianya hardware, software, data spasial dan numerik, sumber daya
manusia, prosedur kerja standart, dan mekanisme pendukung. Pengembangan
institusi semacam ini memerlukan pemantapan tujuan, dukungan dana, sumber daya
manusia (teknisi, analis, pengelola), spasial information expert,
application GIS expert dan perlu berhubungan dengan para vendor.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Geografi
ekonomi adalah aktivitas ekonomi manusia sebagai obyeknya di suatu ruang atau
ruang tertentu. Penerapan ilmu geografi dalam aspek ekonomi dapat diterapkan
dalam penentuan wilayah atau lokasi sektor industri. Pembangunan berkelanjutan
(sustainable development) didefinisikan sebagai proses pembangunan (lahan,
kota, bisnis, masyarakat, dan sebagainya) yang berprinsip “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan
generasi masa depan” (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987).
Geografi sebagai cabang ilmu yang sudah mapan,
dengan obyek kajiannya berupa bumi dan langit, memiliki berbagai peran nyata
dalam membangun peradaban bangsa. Peran geografi tersebut antara lain sebagai
salah unsur pembentuk negara, mendukung ketahanan nasional (pangan, energi,
geopolitik...), mengkaji keberadaan sumber daya alam, manusia dan buatan,
mendukung perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi pelaksanaan
pembangunan nasional serta menumbuhkan rasa cinta tanah air.
B.
Saran
Melihat kondisi wilayah Indonesia yang begitu kaya
akan segala sumber daya alam baik itu sumber daya alam hayati ataupun non
hayati seharusnya bangsa Indonesia lebih bisa memanfaatkannya dengan lebih baik
dan peran dari pemerintah sangatlah penting dalam kemajuan industri-industri
yang ada di Indonesia. Sebaiknya pemerintah tidak melulu fokus terhadap
industri besar tetapi industri-industri kecil juga perlu diperhatikan agar
industri-industri kecil dapat berkembang dan dapat membantu perekonomian
negara.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumaryadi, I Nyoman, 2005,
Perencanaan Pembangunan Daerah Otonomi & Pemberdayaan Masyarakat, Citra
Utama, Jakarta.
Subejo & Supriyanto, 2004,
Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Menuju Pembangunan Berkelanjutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar